Selasa, 03 Juni 2008

Psikologi dan Olahraga


Mungkin orang mengira antara dunia psikologi dan dunia olahraga tidak ada hubungannya. Tetapi setelah membaca artikel ini mungkin anda akan berubah pikiran...he...he....
Sekalipun Weinberg dan Gould (1995) memberikan pandangan yang hampir serupa atas psikologi olahraga dan psikologi latihan (exercise psychology), karena banyak kesamaan dalam pendekatannya, beberapa peneliti lain (Anshel, 1997; Seraganian, 1993; Willis & Campbell, 1992) secara lebih tegas membedakan psikologi olahraga dengan psikologi latihan. Weinberg dan Gould, (1995) mengemukakan bahwa psikologi olahraga dan psikologi latihan memiliki dua tujuan dasar:


mempelajari bagaimana faktor psikologi mempengaruhi performance fisik individu
memahami bagaimana partisipasi dalam olahraga dan latihan mempengaruhi perkembangan individu termasuk kesehatan dan kesejahteraan hidupnya

Di samping itu, mereka mengemukakan bahwa psikologi olahraga secara spesifik diarahkan untuk:

membantu para professional dalam membantu atlet bintang mencapai prestasi puncak
membantu anak-anak, penderita cacat dan orang tua untuk bisa hidup lebih bugar
meneliti faktor psikologis dalam kegiatan latihan dan
memanfaatkan kegiatan latihan sebagai alat terapi, misalnya untuk terapi depressi (Weinberg & Gould, 1995).

Sekalipun belum begitu jelas letak perbedaannya, Weiberg dan Gould (1995)telah berupaya untuk menjelaskan bahwa psikologi olahraga tidak sama dengan psikologi latihan. Namun dalam prakteknya biasanya memang terjadi saling mengisi, dan kaitan keduanya demikian eratnya sehingga menjadi sulit untuk dipisahkan. Tetapi Seraganian (1993) serta Willis dan Campbell (1992) secara lebih tegas mengemukakan bahwa secara tradisional penelitian dan praktik psikologi olahraga diarahkan pada hubungan psikofisiologis misalnya responsi somatik mempengaruhi kognisi, emosi dan performance. Sedangkan psikologi latihan diarahkan pada aspek kognitif, situasional dan psikofisiologis yang mempengaruhi perilaku pelakunya, bukan mengkaji performance olahraga seorang atlet. Adapun topik dalam psikologi latihan misalnya mencakup dampak aktivitas fisik terhadap emosi pelaku serta kecenderungan (disposisi) psikologi, alasan untuk ikut serta atau menghentikan kegiatan latihan olahraga, perubahan pribadi sebagai dampak perbaikan kondisi tubuh atas hasil latihan olahraga dan lain sebagainya (Anshel, 1997).

Jelaslah kini bahwa psikologi olahraga lebih diarahkan para kemampuan prestatif pelakunya yang bersifat kompetitif; artinya, pelaku olahraga, khususnya atlet, mengarahkan kegiatannya olahraganya untuk mencapai prestasi tertentu dalam berkompetisi, misalnya untuk menang. Sedangkan psikologi laithan lebih terarah pada upaya membahas masalah-masalah dampak aktivitas latihan olahraga terhadap kehidupan pribadi pelakunya. Dengan kata lain, psikologi olahraga lebih terarah pada aspek sosial dengan keberadaan lawan tanding, sedangkan psikologi latihan lebih terarah pada aspek individual dalam upaya memperbaiki kesejahteraan psikofisik pelakunya.

Sekalipun demikian, kedua bidang ini demikian sulit untuk dipisahkan, karena individu berada di dalam konteks sosial dan sosial terbentuk karena adanya individu-individu. Di samping itu kedua bidang ini melibatkan aspek psikofisik dengan aktivitas aktivitas yang serupa, dan mungkin hanya berbeda intensitasnya saja karena adanya faktor kompetisi dalam olahraga.

Sejarah Psikologi Olahraga di Indonesia
Jadi, di satu pihak seorang praktisi psikolog yang memiliki ijin praktik belum tentu memiliki cukup pengetahuan ilmu keolahragaan, di lain pihak, pakar keolahragaan tidak dibekali pendidikan khusus psikoterapi dan konseling. Akibatnya, sampai saat ini masih terjadi kerancuan akan siapa sesungguhnya yang berhak memberikan pelayanan sosial dalam bidang psikologi olahraga. Idealnya adalah seorang konsultan atau psikoterapis memperoleh pelatihan khusus dalam bidang keolahragaan; sehingga sebagai seorang praktisi ia tetap berada di atas landasan professinya dengan mengikuti panduan etika yang berlaku, dan di samping itu pengetahuan keolahragaannya juga cukup mendukung latar belakang pendidikan formalnya.

Dalam upaya mengatasi masalah ini IPO sebagai asosiasi psikologi olahraga nasional tengah berupaya menyusun ketentuan tugas dan tanggung jawab anggotanya. Di samping itu, IPO juga tengah berupaya menyusun kurikulum tambahan untuk program sertifikasi bagi para psikolog praktisi yang ingin memberikan pelayanan sosial dalam bidang psikologi olahraga. Kurikulum tersebut merupakan bentuk spesialisasi psikologi olahraga yang meliputi: 1) Prinsip psikologi olahraga, 2) Peningkatan performance dalam olahraga, 3) Psikologi olahraga terapan, 4) Psikologi senam.

Masalah lain yang juga kerapkali timbul dalam penanganan aspek psikologi olahraga adalah dalam menentukan klien utama. Sebagai contoh misalnya pengguna jasa psikolog dapat seorang atlet, pelatih, atau pengurus. Kepada siapa psikolog harus memberikan pelayanan utama jika terjadi kesenjangan misalnya antara atlet dan pengurus, padahal psikolog dipekerjakan oleh pengurus untuk menangani atlet, dan atlet pada saat tersebut adalah pengguna jasa psikologi. Di satu pihak psikolog perlu menjaga kerahasiaan atlet, di lain pihak pengurus mungkin mendesak psikolog untuk menjabarkan kepribadian atlet secara terbuka demi kepentingan organisasi. Sachs (1993) menawarkan berbagai kemungkinan seperti misalnya menerapkan perjanjian tertulis untuk memberikan keterangan; namun demikian, jika atlet mengetahui bahwa pribadinya akan dijadikan bahan pertimbangan organisasi, ia mungkin cenderung akan berperilaku defensif, sehingga upaya untuk memperoleh informasi tentang dirinya akan mengalami kegagalan. Karenanya, seorang psikolog harus dapat bertindak secara bijaksana dalam menangani masalah ini, demikian pula, hendaknya seorang pelatih yang kerapkali bertindak selaku konsultan bagi atletnya kerap kali harus mampu melakukan pertimbangan untuk menghadapi masalah yang serupa.

Atlet, Pelatih, & Lingkungan
Atlet, pelatih dan lingkungan merupakan tiga aspek yang berkaitan satu sama lain dalam membicarakan psikologi olahraga dan psikologi senam. Istilah atlet tidak terbatas pada individu yang berprofesi sebagai olahragawan, tetapi juga mencakup individu secara umum yang melakukan kegiatan olahraga. Pelatih harus dibedakan dari sekedar instruktur, karena pelatih tidak hanya mengajarkan atlet bagaimana melakukan gerakan-gerakan olahraga tertentu, tetapi juga mendidik atlet untuk memberikan respon yang tepat dalam bertingkah laku di dalam dan di luar gelanggang olahraga. Lingkungan tidak terbatas pada lingkungan fisik semata-mata tetapi juga lingkungan sosial masyarakat, termasuk di dalamnya lingkungan kehidupan tempat atlet tinggal.

Atlet, pelatih dan lingkungan adalah tiga aspek yang merupakan suatu kesatuan yang menentukan athletic performance. Istilah atlethic performance agak sulit untuk diterjemahkan karena merupakan suatu istilah spesifik yang tidak bisa disamakan artinya dengan misalnya perilaku atletik.

Atlet
Seorang atlet adalah individu yang memiliki keunikan tersendiri. Ia memiliki bakat tersendiri, pola perilaku dan kepribadian tersendiri serta latar belakang kehidupan yang mempengaruhi secara spesifik pada dirinya. Sekalipun dalam beberapa cabang olahraga atlet harus melakukannya secara berkelompok atau beregu, pertimbangan bahwa seorang atlet sebagai individu yang unik perlu tetap dijadikan landasan pemikiran. Karena, misalnya di dalam olahraga beregu, kemampuan adaptif individu untuk melakukan kerjasama kelompok sangat menentukan perannya kelak di dalam kelompoknya.

Adalah sesuatui hal yang mustahil untuk menyamaratakan kemampuan atlet satu dengan lainnya, karena setiap individu memiliki bakat masing-masing. Bakat yang dimiliki atlet secara individual ini lah yang sesungguhnya layak untuk memperoleh perhatian secara khusus agar ia dapat memanfaatkan potensi-potensinya yang ada secara maksimum.

Namun demikian, keunikan individu seorang atlet seringkali disalahartikan sebagai perilaku menyimpang (Anshel, 1997). Sebagai contoh petenis John McEnroe menggunakan perilaku marahnya untuk membangkitkan semangatnya. Namun bagi mereka yang tidak memahami hal ini menganggap McEnroe memiliki kecenderungan pemarah. Masalahnya adalah mungkin perilaku marahnya dapat mengganggu lawan tandingnya sehingga hal ini dirasakan sebagai sesuatu yang kurang sportif untuk menjatuhkan mental lawan tandingnya. Demikian pula Monica Seles sering ditegur karena lenguhannya yang keras pada saat memukul bola, namun sesungguhnya hal ini merupakan keunikan perilakunya, dan karena tidak adanya aturan khusus untuk melarang hal tersebut, sebenarnya memang Seles tidak melakukan pelanggaran apapun. Adalah juga keliru menganggap bahwa setiap atlet membutuhkan masukan dari pelatihnya pada saat menjelang pertandingan. Karena ada atlet-atlet yang lebih cendeung memilih untuk berada sendiri daripada ditemani oleh orang lain. Jadi, setiap atlet memiliki ciri khas masing-masing, dan tidak bisa dilakukan penyamarataan dalam melakukan pendekatan terhadap atlet. Hal-hal seperti inilah yang perlu difahami oleh para pembina dalam membina para atletnya. Karena justru keunikan merekalah yang membuat mereka mampu berprestasi puncak. Sedangkan mereka yang tergolong "normal" memang hanya memiliki prestasi normal-normal (biasa-biasa) saja.

Pelatih
Pelatih, seperti telah disinggung di atas, bukan sekedar instruktur olahraga yang memberitahukan atlet cara-cara untuk melakukan gerakan tertentu dala olahraga. Pelatih juga merupakan tokoh panutan, guru, pembimbing, pendidik, pemimpin, bahkan tak jarang menjadi tokoh model bagi atletnya. Pelatih sendiri juga mungkin meniru gaya pelatih lain atau pelatih senior yang melatih dirinya. Ada pepatah asing yang mengatakan "monkey see, monkey do", artinya apa yang dilihat, itulah yang dikerjakan. Demikianlah hal yang harus disadari oleh pelatih bahwa apa yang dilakukannya kelak akan dijadikan contoh oleh atletnya. Dengan kata lain atlet cenderung untuk meniru hal-hal yang dikerjakan oleh pelatihnya. Pelatih harus waspada akan hal-hal yang disampaikan pada atletnya, karena atlet cenderung akan mencamkan yang diutarakan oleh pelatihnya. Hal yang diutarakan pelatih pada atlet dipandang sebagai prinsip oleh atlet, dan atlet cendrung berupaya untuk mentaatinya. Demikian pula ekspressi emosi pelatih terhadap atletnya akan banyak berpengaruh terhadap perilaku atlet (Anshel, 1997). Kecemasan pelatih menjelang pertandingan dapat mempengaruhi atlet untuk menjadi makin cemas dalam bertanding. Lontaran ucapan pelatih yang kurang layak dapat dirasakan sangat menyakitkan oleh atlet sehingga dapat memberikan pengaruh negatif pada atlet dalam berlatih maupun bertanding. Demikian pula penerapan disiplin yang tidak jelas, terlebih disertai dengan penguatan yang kurang tepat akan memberikan dampak buruk bagi penampilan atlet. Adalah tugas pelatih untuk memainkan peran penting dalam masalah-masalah psikologis seperti di bawah ini :

Memotivasi atlet sebelum, selama, dan setelah periode latihan maupun pertandingan
Memberikan pengaruh positif terhadap pembentukan sikap atlet
Memperbaiki citra diri dan keyakinan diri atlet
Menjadi pimpinan yang baik untuk meningkatkan moral atlet
Memahami dan memnuhi kebutuhan atlet
Mengidentifikasi potensi dan mempromosikan perkembangan atlet
Mempertahankan konsistensi performance atlet
Membantu atlet mengatasi tekanan mental, kekecewaan, dan berbagai permasalahan yang berpotensi mengganggu performancenya kelak
Mempersiapkan atlet dengan memberikan bekal keterampilan dan strategi bertanding.

Lingkungan
Lingkungan mencakup situasi, kondisi, interaksi atlet dengan atlet lain, dengan pelatih, dengan lawan tanding, penonton, peliput olahraga, serta juga terkait dengan kondisi fisik perlengkapan, fasilitas dan lain-lain. Dalam berbagai jenis olahraga, lingkungan juga terkait dengan masalah cuaca dan medan pertandingan. Di samping itu, lingkungan juga mencakup keutuhan kelompok, kebersamaan kelompok, sifat saling membantu di antara anggota kelompok, perasaan bangga dan lain-lain. Lingkungan memiliki aspek cakupan yang demikian luasnya, karenanya sejumlah aspek yang menentukan seringkali luput dari pengamatan.

Adalah penting untuk ditelaah besarnya peran lingkungan terhadap performance atlet, dan tangguh serta tanggapnya atlet terhadap kondisi lingkungan. Atlet yang kurang tanggap terhadap kondisi lingkungan bisa kehilangan kewaspadaan, atlet yang kurang tangguh bisa mudah terpengaruh oleh kondisi lingkungan. Selanjutnya, dukungan lingkungan yang besar mungkin dapat memberi dampak positif bagi performance atlet; sebaliknya kondisi lingkungan yang terlalu menekan cenderung memberi dampak negatif pada atlet.

Ketiga aspek yang tidak terpisahkan ini (atlet, pelatih dan lingkungan) memiliki hubungan interaksi yang demikian kompleks sehingga memang tidak terlalu mudah untuk mengkajinya. Namun demikian berbagai upaya harus terus dilakukan sebagai usaha untuk terus mengembangkan potensi atlet secara maksimal. Kompleksitas hubungan interaktif ketiga aspek ini seringkali kurang memperoleh perhatian serius; sebaliknya sejumlah upaya yang dilakukan juga sering melupakan atau memperkecil peran satu aspek dibandingkan aspek lainnya. Padahal, hambatan yang terjadi pada salah satu aspek tertentu, betapapun kecil tampaknya bisa memberi pengaruh yang besar pada performance atlet.

Kepustakaan

Anshel, M. H. (1997). Sport psychology: From theory to practice (3rd ed.). Scottsdale, AZ: Gorsuch Scarisbrick.

Clarke, K. S. (1984). The USOC sports psychology registry: A clarification. Journal of Sport Psychology, 6, 365-366.

Sachs, M. L. (1993). Professional ethics in sport psychology. In R. N. Singer, M. Murphey, & L. K. Tennant (Ed.), Handbook of research in sport psychology (pp. 921-932). New York: Maacmillan.

Seraganian, P. (Ed.). (1993). Exercise psychology: The influence of physical exercise on psychological processes. New York: John Wiley & Sons.

Singer, R. N. (1993). Ethical issues in clinical services. Quest, 45, 88-105

Triplett, N. (1898). The dynamogenic factors in pacemaking and competition. American Journal of Psychology, 9, 507-553.

Weinberg, R. S., & Gould, D. (1995). Foundations of sport and exercise psychology. Champaign, IL: Human Kinetics

Wiffins, D. K. (1984). The history of sport psychology in North America. In J. M. Silva & R. S. Weinberg (Eds.), Psychological foundations of sport (pp.9-22). Champaign, IL: Human Kinetics.

Willis, J. D., & Campbell, L. F. (1992). Exercise psychology. Champaign, IL: Human Kinetic.


[Baca Selangkapnya »»]

Minggu, 01 Juni 2008

Pandangan Kecerdasan Spiritual (SQ) Terhadap Indonesia


Oleh : Rahmat Ismail
Ketua Umum PP Himpunan Psikologi Indonesia

AbstrakKrisis moneter yang menimpa beberapa negara di Asia Tenggara pada tahun 1997 telah membawa dampak yang sangat besar dalam kehidupan ekonomi, politik dan sosial di Indonesia.

Di Indonesia sangat dirasakan adanya krisis ekonomi yang dimulai dari kehancuran sektor perbankan, dilanjutkan dengan penarikan dana yang sangat besar dari Bank Indonesia dalam bentuk BLBI untuk penyehatan sektor perbankan. Akan tetapi justru yang terjadi adalah maraknya perdagangan valuta asing sehingga nilai tukar rupiah jatuh ke titik yang terendah.

Kemelut dalam bidang politikpun terjadi. Presiden Suharto setelah berkuasa lebih dari 32 tahun terpaksa harus meletakkan jabatan. Wakil Presiden saat itu, BJ Habibie, diangkat menjadi Presiden.


Melalui Sidang Istimewa MPR RI, diputuskan adanya pemilihan umum dipercepat. Hasilnya terpilih Presiden baru Abdurrachman Wahid, yang juga tidak dapat bertahan lama karena dianggap sering mengambil keputusan yang kontroversial. Melalui Sidang Istimewa MPR RI Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri diangkat menjadi presiden.

Muncul berbagai permasalahan sosial di hampir seluruh wilayah Indonesia. Kerusuhan dengan latarbelakang kesukuan, agama, politik dan ekonomi telah memicu berbagai unjuk rasa, main hakim sendiri hingga pertumpahan darah.

Pendekatan yang memanfaatkan Kecerdasan Spiritual (Spiritual Intelligence) diharapkan dapat menjadi alernatif pemecahan masalah konflik sosial yang saat ini sedang terjadi di Indonesia.

PendahuluanKrisis moneter yang diawali sejak pertengahan tahun 1997 dan terjadi di Asia Tenggara, telah membawa dampak yang sangat besar dalam kehidupan bangsa-bangsa menjelang diberlakukannya Zona Perdagangan Bebas.

Dimulai dengan adanya guncangan ekonomi di Kerajaan Gajah Putih Thailand, dimana nilai tukar mata uang Bath yang selama 40 tahun terakhir berkisar sekitar 24 Bath untuk 1 dollar Amerika, pada bulan April 1997 telah terpuruk menjadi 50 Bath. Jatuhnya mata uang Bath ini menjadi pemicu dimulainya krisis ekonomi di Korea, Malaysia, Philipina, Singapura dan Indonesia.

Perbaikan yang dilakukan di negara-negara Thailand, Korea, Malaysia, Philipina dan Singapura dapat cepat membawa hasil, karena krisis yang mereka alami hanya menyangkut moneter saja. Berbeda dengan di Indonesia, dimana terjadinya krisis moneter telah diikuti pula oleh krisis politik yang pada akhirnya menjadi sebuah krisis sosial.

Krisis multi dimensi di IndonesiaKrisis ekonomi di Indonesia diawali sejak dilakukannya praktik perdagangan monopoli yang dilakukan oleh elit tertentu dan didukung oleh kekuatan politik yang ada. Kekuatan ekonomi yang dibentuk dan ditentukan oleh kekuasaan politik ini telah mendorong tumbuh suburnya korupsi di pelbagai lini birokrasi pemerintahan dan militer.

Dalam bidang keuangan, lembaga perbankan lahir dengan mudah karena persyaratan pendirian yang sangat ringan. Akan tetapi dalam perkembangannya, dana yang dikumpulkan oleh perbankan di Indonesia lebih banyak digunakan hanya untuk membiayai usaha dari kelompok pemilik bank itu sendiri. Karena sebagian besar dari usaha ini gagal, maka perbankan harus memikul beban kerugian yang sangat berat.

Akibatnya, likwiditas perbankan menjadi sangat lemah. L/C yang sudah dibuka dan jatuh tempo untuk dibayarkan, tidak dapat dicairkan oleh bank-bank di luar negeri. Oleh karena seringnya perbankan kalah kliring, mereka meminjam dari bank yang lain dengan bunga yang sangat tinggi. Untuk mengatasi permasalahan ini sekelompok pengusaha perbankan mengajukan permohonan bantuan likwiditas dari Bank Indonesia dan terjadilah penarikan uang negara secara besar-besaran yang diberikan kepada sekelompok pengusaha perbankan yang dikenal sebagai kasus Bantuan Likuidasi Bank Indonesia (BLBI) pada bulan Nopember 1997. Di perkirakan dana BLBI tersebut sebagian besar tidak digunakan untuk menyehatkan keuangan perbankan di dalam negeri, melainkan dipindahkan ke luar negeri dipakai untuk spekulasi valuta asing. Fuad Bawazier, mantan Menteri Keuangan yang pernah memeriksa BLBI menyebut kasus ini sebagai "perampokan bank terbesar di dunia yang dilakukan secara terang-terangan di siang hari bolong"

Nilai tukar rupiah yang sebelum masa krisis masih bisa bertahan pada posisi sekitar Rp. 2.250 untuk 1 dollar Amerika telah merosot ke Rp. 4.000 pada saat BLBI dilakukan. Akan tetapi hanya dalam waktu 45 hari setelah BLBI dikucurkan, nilai tukar rupiah justru merosot empat kali lipat hingga mencapai titik terendahnya pada pertengahan Februari 1998 senilai Rp 16.000 untuk 1 dollar Amerika. Suatu nilai tukar yang tidak pernah terbayangkan akan terjadi menimpa ekonomi Indonesia.

NAMA BANK PENERIMA
JUMLAH POKOK
1. BDNI / Sjamsul Nursalim
Rp. 37.040 milyar

2. BCA / Soedono Salim
Rp. 26.596 milyar

3. DANAMON / Usman Atmadjaja
Rp. 23.050 milyar

4. BUN / Bob Hasan
Rp. 12.068 milyar

5. BIRA / Bambang Winarso
Rp. 4.018 milyar

6. BHS / Hendra Rahardja
Rp. 3.866 milyar


Tabel 1. Lima besar penerima BLBI (Sumber BI dan BPK)


Sebagai dampak dari merosotnya nilai tukar rupiah, terjadinya penguasaan perekonomian di tangan sekelompok pengusaha besar dan penumpukan kekayaan pada sekelompok orang saja, terutama di tangan pejabat negara dan militer yang korup, semakin menyebabkan rasa ketidak percayaan rakyat terhadap pemerintahan yang ada. Dipicu oleh pengunduran diri sejumlah Menteri Kabinet Pembangunan 2 bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri yang diprakarsai oleh Ginanjar Kartasasmita, Pemerintahan Soeharto yang telah berkuasa lebih dari 32 tahun berakhir dengan dibacakannya pengunduran diri Suharto sebagai presiden dan dilantiknya B.J. Habibie sebagai Presiden Indonesia ke tiga pada pagi hari Kamis 21 Mei 1998. Rezim Orde Baru yang telah berkuasa dengan sangat kokoh di Indonesia, ternyata tidak mampu untuk bisa membendung kehancuran perekonomian.

Sidang Istimewa MPR RI kemudian diadakan dan menetapkan dipercepatnya pelaksanaan pemilihan umum agar para wakil rakyat dapat memilih Presiden yang legitimate. Melalui hasil pemilu inilah kemudian MPR RI memilih Abdurrachman Wahid menjadi Presiden RI ke empat. Akan tetapi usia kepemimpinan Wahid inipun tidak dapat bertahan lama. Terjadi konflik antara lembaga eksekutif dan legislatif. Wahid yang seringkali mengambil keputusan yang kontroversial pada akhirnya mengeluarkan dekrit pembubarkan MPR RI. Hal ini menyebabkan reaksi MPR RI mencabut mandat yang telah diberikan kepada Wahid dan mengaangkat Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri menjadi Presiden ke lima Indonesia.

Konflik sosial di pelbagai daerah di Indonesia.Bersamaan dengan terjadinya krisis ekonomi dan politik, konflik sosialpun bermunculan di berberbagai daerah. Bangsa Indonesia yang sebelumnya dikenal sebagai bangsa yang ramah dan memiliki tata krama yang sangat tinggi, seolah berubah menjadi bangsa yang brutal dan bengis.

Kerusuhan antar agama yang tidak dapat dibuktikan siapa pelakunya terjadi di Situbondo pada tanggal 10 Oktober 1996. Demikian pula di Tasikmalaya pada tanggal 26 Desember 1996 terjadi kerusuhan yang dipicu oleh adanya penganiayaan dua orang santri oleh polisi setempat.

Di Ambon terjadi pula kerusuhan antar agama pada tanggal 19 Januari 1999 terjadi tepat pada pada hari raya ‘Idul Fitri , di Galela, Maluku Utara terjadi pembantaian di dalam masjid pada bulan puasa Desember 1999 dan di Poso ditemukan ratusan mayat terapung di suangai Poso pada Mei 2000 menjelang pelaksanaan MTQ ke 19.

Konflik antar suku terjadi beberapa kali di Kalimantan antara suku Dayak dan Madura. Di Sanggauledo pada tanggal 29 Desember 1996, di Pontianak 29 Januari 1997 dan 25 Oktober 2000, serta di Sungaikunyit Hulu 18 Pebruari 1997. Kejadian paling parah terjadi di Palangkaraya pada 18 Pebruari 2001 dan berkembang hingga ke Sampit. Konflik antar suku ini telah menyebabkan terjadinya arus pengungsi etnis Madura ke Surabaya dan Pulau Madura secara besar-besaran.

Sejak bulan Januari hingga Oktober 1998, di 13 wilayah Jawa dan Madura, khususnya di daerah Tapal Kuda Jawa Timur terjadi pembunuhan massal yang bermula dari isu pembersihan dukun santet. Para ustadz dan kiai menjadi korban pembunuhan yang polanya mirip dengan pembunuhan yang dilakukan oleh PKI menjelang meletusnya G30S. Di Bekasi, Serang, Demak, Bangkalan, Lumajang, Situbondo dan Probolinggo ditemukan korban tewas dan luka-luka parah.

Kejadian yang paling mencolok adalah korban pembantaian yang tewas di Banyuwangi yaitu 85 orang, di Sumenep 23 orang, di Jember 17 orang, di Pasuruan 13 orang dan di Pamekasan 5 orang. sejak bulan Januari hingga Oktober 1998.

Di Aceh telah terjadi konflik sosial yang pada akhirnya tidak diketahui lagi siapa yang memulainya. Tentara membunuh rakyat, rakyat membunuh tentara. Rektor sebuah universitas dibantai, anggota legislatif dan eksekutif diculik dan dibunuh. Fasilitas umum diluluh lantakkan. Pemerintah pada akhirnya menyetujui untuk memberikan Otonomi Khusus bagi Aceh melalui Undang-undang Nanggroe Atjeh Darussalam.

Di Jakarta juga terjadi berbagai konflik sosial dengan latar belakang permasalahan yang beraneka ragam. Antara lain mulai dari perebutan lahan parkir, tertangkapnya pencuri, konflik antar kampung/suku, konflik politik hingga konflik antara mahasiswa dan tentara/polisi yang menyebabkan meninggalnya 3 orang martir mahasiswa Universitas Trisakti, Elang Mulia, Hafidin Royan dan Hery Hertanto pada tanggal 12 Mei 1998.

Konflik yang terjadi hampir di seluruh wilayah negara kesatuan Republik Indonesia ini menyebabkan terjadinya pergeseran nilai-nilai. Sementara nilai-nilai yang lama masih belum dapat ditinggalkan, nilai-nilai baru sudah berlaku di masyarakat. Dalam kondisi anomi ini, masyarakat hidup dengan penuh ketidak jelasan. Dapat dilihat dari sopan santun di jalan raya bagi pengendara kendaraan, saat ini sudah hampir tidak ada lagi. Kendaraan-kendaraan terutama yang besar-besar, melaju dengan sesuka hati mereka tanpa memperhitungkan bahaya yang mungkin bisa terjadi bagi pengendara lain. Sikap main hakim sendiri juga sudah merupakan kejadian sehari-hari, sehingga tidak jarang terjadi pengeroyokan hingga mati terhadap pencuri yang tertangkap basah.

Dalam kondisi sedemikian ini, diharapkan kita dapat memiliki kemampuan untuk menghadapi berbagai permasalahan ini dengan baik dan memecahkan persoalan-persoalan tersebut dengan mengetahui makna dan nilai yang terkandung di dalamnya.

Kecerdasan Spiritual sebagai alternatif pemecahan masalah konflik sosialMenghadapi bebagai permasalahan konflik sosial yang saat ini sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia dan bahkan telah mulai menjurus kepada kemungkinan terjadinya disintegrasi bangsa, diperlukan kemampuan untuk dapat melihat permasalahan yang ada secara holistik, dimana kita dapat melihat dengan lengkap seluruh keterkaitan permasalahan dan mampu untuk bersikap secara luwes. Hal ini dimungkinkan apabila seseoang itu memiliki Kecerdasan Spiritual yang tinggi.

Danah Zohar dan Ian Marshal memberikan batasan tentang Kecerdasan Spiritual (Spiritual Intelligence) ini sebagai kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai.

Apabila dikaitkan dengan teori chaos, maka saat ini kita sedang berada pada titik "ujung", yaitu titik pertemuan antara tatanan dan kekacauan. Antara yang diketahui dan yang tidak diketahui. Untuk itulah diharapkan agar kita memiliki kemampuan untuk dapat membaca makna dan nilai yang tekandung di dalamnya.

Kecerdasan Intelektual yang sangat dikenal sejak awal abad ke 20 dengan IQ (Intelligence Quotient), adalah merupakan perkalian 100 atas Usia Mental (MA, yang didapat melalui nilai test psikologi) dibagi dengan Usia Kalender (CA, yang didapat dari usia kelahiran). Kecerdasan ini digunakan untuk memecahkan masalah logika maupun strategis.

Daniel Goleman pada pertengahan 1990-an mempopulerkan Kecerdasan Emosional atau EQ (Emotional Quotion), adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara aktif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, koneksi, dan pengaruh yang manusiawi. EQ merupakan persyaratan dasar untuk dapat menggunakan IQ secara efektif.

Ditinjau dari ilmu saraf, IQ merupakan hasil dari pengorganisasian saraf yang memungkinkan kita untuk berpikir rasional, logis dan taat asas. EQ yang memungkinkan kita untuk bepikir asosiatif yang terbentuk oleh kebiasaan dan memampukan kita untuk dapat mengenali pola-pola emosi. Sedangkan SQ memungkinkan kita untuk berfikir secara kreatif, berwawasan jauh membuat dan bahkan mengubah aturan.

SQ dengan demikian merupakan landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif dan merupakan jenis pemikiran yang memungkinkan kita menata kembali dan mentransformasikan dua jenis pemikiran yang dihasilkan IQ dan EQ.

Sekalipun SQ tidak sama dengan beragama, tidak harus berhubungan dengan agama dan beragama itu tidak menjamin dimilikinya SQ yang tinggi, namun tantangan untuk mencapai kecerdasan spiritual yang tinggi sama sekali tidak bertentangan dengan agama. Tetap diperlukan adanya kerangka acuan dari agama untuk dapat mempermudah kita dalam memahami makna dan nilai dalam kehidupan ini. Dengan demikian penguasaan agama akan membantu kita dalam mempermudah meningkatkan Kecerdasan Spiritual, sehingga kita dapat menangkap makna dan nilai-nilai dengan lebih baik.

Tanda-tanda dari SQ yang telah berkembang dengan baik adalah :

Kemampuan bersikap fleksibel
Tingkat kesadaran yang dimiliki tinggi
Kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan
Kemampuan untuk menghadapi dan melampaui rasa sakit
Kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai
Keengganan untuk mengalami kerugian yang tidak perlu
Kemampuan untuk melihat keterkaitan berbagai hal
Memiliki kecenderungan bertanya "mengapa" atau "bagaimana jika" dalam rangka mencari jawaban yang mendasar
Memiliki kemampuan untuk bekerja mandiri.
Dengan dapat terpenuhinya tanda-tanda SQ yang telah berkembang ini,diharapkan seseorang akan mampu untuk selalu membuka diri terhadap setiap pengalaman yang ditemuinya dan kemudian dapat menangkap makna yang terkandung di dalamnya. Seseorang akan menjadi tegar untuk menghadapi setiap permasalahan dan membuka diri untuk memandang kehidupan dengan cara yang baru.

KesimpulanDi dalam menghadapi berbagai konflik yang timbul sebagai akibat dari tidak segera diatasinya krisis multi dimensi yang saat ini sedang dihadapi bangsa Indonesia, pertama-tama sangat diperlukan adanya kemampuan untuk dapat melihat keterkaitan dari setiap permasalahan yang sedang dihadapi.

Dengan dimilikinya kemampuan untuk melihat permasalahan secara holistik, diharapkan kita dapat menjadi lebih fleksibel dalam menentukan etika baru yang akan kita pergunakan untuk menggantikan etika lama yang penuh dengan kekerasan dan kekejaman. Diperlukan pula adanya seseorang pemimpin yang penuh dengan pengabdian, mampu untuk melepaskan dirinya dari kepentingan-kepentingan sempit kelompok, aliran atau partai politik yang dianutnya dan kemudian menjadikan kepentingan mayoritas dari bangsa ini sebagai acuan sikapnya.

Kita harus dapat melepaskan diri dari pengaruh budaya masyarakat modern yang saat ini sangat dipengaruhi oleh humanisme barat, ternyata menurut Danah Zohar dan Ian Marshall memiliki SQ kolektif yang rendah. Manusianya berada dalam budaya yang secara spiritual bodoh yang ditandai oleh materialisme, kelayakan, egoisme diri yang sempit, kehilangan makna dan komitmen. Oleh karena itu ajaran-ajaran agama akan sangat membantu kita untuk dapat meningkatkan SQ agar dapat menjadi tinggi dan dapat keluar dari konflik sosial yang saat ini telah sampai pada "ujung"nya.

KepustakaanDanah Zohar & Ian Marshall (2000), SQ: Spiritual Intelligence – The
Ultimate Intelligence, Great Britain: Blomsbury

Robert K.C. & Ayman S (1997) , EXECUTIVE EQ, Emotional
Intelligence in Leadership and Organizations, NY: Advanced Intelligence Technologies

Thomas M.H. (2000), Studying Psychology, Great Britain: Psychology Press Ltd.


[Baca Selangkapnya »»]

Kamis, 29 Mei 2008

SPMB.......TENANG AJA.....


Buat calon2 mahasiswa nih, ada beberapa tip buat lulus di SPMB. Nih tulisan berasal dari pengalaman pnulis dan pengalaman teman-temen yang laen….Spesial Lohhhhh:
1. Ukur kemampuan diri (baik kemampuan akademik dan kemampuan finansial), saatnya jujur dengan diri sendiri. Coz cuma qta aj yang tau kemampuan qta sendiri.
2. Buat yang agak seret finansialnya, mendingan gak terpengaruh propaganda Bimbel-Bimbel yang banyak mempengaruhi adik-adik untuk bergabung dengan mereka. Toh mereka gak jamin adik2 adik bisa lulus spmb. Solusinya:


Cari aj buku-buku soal (kumpulan soal-soal) yang diterbitkan oleh bimbel-bimbel tersebut, pelajari di rumah, bahas semua soal-soalnya, dan ikuti trik-trik mereka. Kan itu juga yang bakalan dikasih di Bimbel, gak beda kok. Yang manis cuma propaganda mereka aj tuh…ga boong. Dan klo yang agak seret cari juga buku2 mereka di Pasar Loak, buka rahasia dikit nih, soalnya aku cari2 buku tersebut di Loakan juga loh. Harganya murah dan masih bisa dipake kok. Ngapain beli buku SPMB baru, toh cuma dipake 2 bulan lebih dikit. Mendingan Beli celana panjang, baju kemeja, (ini sih nasehat ayundaku sebelum SPMB taun 2003 yg lalu) untuk kuliah
Tiap hari sebelum ujian targetin dapet beberapa Soal. Dan liat jurusan apa yang bakal di pilih, dan liat grade tahun lalu. Kalo jurusan yang bakal dipilih tidak terlalu tinggi gradenya, ya….artinya peminatnya tidak terlalu banyak. Solusinya kuasai Materi yang dianggap bisa dikerjakan dengan penuh dan Benar. Kalo penulis sendiri kemarin banyakin membahas soal materi hari Ke-1:
1.Bahasa Indonesia, 2. Bahasa Inggris, 3. Matematika Dasar. Sedangkan materi hari kedua, tu kan materi kejuruan, penulis cuma bahas biologi dan sedikit matematika IPAnya, dan sangat sedikit Fisika dan kimianya. hehehe….Soalnya penulis cuma mampu kayak gitu strateginya. Dan yang lebih penting aDALAH:
A. Mental (biar dak gugup bentengi dengan Tahajud Pas sebelum ujian SPMB), doa yang khusuk setelah sholat.
B. Jujur dengan diri sendiri, ini modal pas Try Out Di Rumah, Qita yang nentuin Soal, Qita nentuin Waktu pengerjaan, Qita nentuin grade, Qita nentuin kapan mau dijawab, Jadi kita menjadi BIMBEL PRIBADI. Menjadi Manajer Diri Sendiri
C. Jangan lupa masukan Energi yang bisa mendukung kerja Otak. Buat gambaran, selama Bimbel Pribadi, penulis selalu disuport dengan suplemen tambahan (misalnya makanan yang bergizi, walaupun murah harganya) oleh Ayunda Tercinta. Soalnya, orang tua penulis sudah tidak ada lagi.
D. Setelah masa penentuan jurusan, tentukan minat dan kemampuan anda, jangan terlalu membaca masa depan setelah keluar kampus Mau Jadi apa. Tetapi jalani saja itu dengan sebaik mungkin. Faktanya sekarang, banyak sekali anak teknik bekerja di Bank-Bank (swasta mapun bank pemerintah), Bahkan ada juga lulusan Ekonomi yang bekerja sebagai kepala Bengkel di perusahaan Besar malah. Jadi jalani saja apa yang bisa kita raih dan kita capai.
E. Optimis (jangan merasa tidak akan berhasil), tapi kita liat dulu kemampuan kita sampai dimana, biar kita bias menerpkan Optimisme kita pada tempat yang benar.
PENGALAMAN GUE....3 TAHUN YANG LALU.....GUE PELAJARI SOAL-SOAL 3 -5 TAHUN YANG LALU....DAN BENER..., SOAL YANG GUE PELAJARI ITU KELUAR TANPA DIUBAH SUSUNAN KATANYA......SO...GUE SENENG BANGET...HE...HE...HE....


[Baca Selangkapnya »»]

Terapi Bermain Bagi Anak



Bermain
Bermain merupakan sarana bagai anak-anak untuk belajar mengenal lingkungan kehidupannya. Pada saat bermain, anak-anak mencobakan gagasan-gagasan mereka, bertanya serta mempertanyakan berbagai persoalan, dan memperoleh jawaban atas persoalan-persoalan mereka. Melalui permainan menyusun balok misalnya anak-anak belajar menghubungan ukuran suatu obyek dengan lainnya. Mereka belajar memahami bagaimana balok yang besar menopang balok yang kecil. Mereka belajar konsep bagaimana hal-hal yang lebih besar mampu menopang hal-hal yang lebih kecil.

Bermain tidak sekedar bermain-main. Bermain memberikan kesempatan pada anak untuk mengembangkan kemampuan emosional, fisik, sosial dan nalar mereka. Melalui interkasinya dengan permainan., seorang anak belajar meningkatkan toleransi mereka terhadap kondisi yang secara potensial dapat menimbulkan frustrasi.


Kegagalan membuat rangkaian sejumlah obyek atau mengkonstruksi suatu bentuk tertentu dapat menyebabkan anak mengalamai frustrasi. Dengan mendampingi anak pada saat bermain, pendidik dapat melatih anak untuk belajar bersabar, mengendalikan diri dan tidak cepat putus asa dalam mengkonstruksi sesuatu. Bimbingan yang baik bagi anak mengarahkan anak untuk dapat mengendalikan dirinya kelak di kemudian hari untuk tidak cepat frustrasi dalam menghadapi permasalahan kelak di kemudian hari.

Secara fisik, bermain memberikan peluang bagi anak untuk mengembangkan kemampuan motoriknya. Permaian seperti dalam olahraga mengembangkan kelenturan, kekuatan serta ketahanan otot pada anak. Permaian dengan kata-kata (mengucapkan kata-kata) merupakan suatu kegiatan melatih otot organ bicara sehingga kelak pengucapan kata-kata menjadi lebih baik.

Dalam bermain, anak juga belajar berinteraksi secara sosial, berlatih untuk saling berbagi dengan orang lain, menignkatkan tolerasi sosial, dan belajar berperan aktif untuk memberikan kontribusi sosial bagi kelompoknya. Di samping itu, dalam bermain anak juga belajar menjalankan perannya, baik yang berkaitan dengan jender (jenis kelamin) maupun yang berkaitan dengan peran dalam kelompok bermainnya. Misalnya dalam permainan perang-perangan seorang anak belajar menjadi pimpinan, kapten sedangkan lainnya menjalankan peran sebagai pendukung. Dalam hubungannya dengan jender, anak-anak melakukan permainan stereotype sesuai dengan budaya dan masyarakat setempat. Misalnya, anak-anak perempuan bermain masak-masakan, sementara anak laki-laki bermain perang-perangan. Dalam hal ini anak-anak menjalani proses pembentukan identifikasi diri dengan bercermin pada hal-hal yang ada di tengah masyarakat.

Melalui bermain, anak juga berkesempatan untuk mengembangkan kemampuan nalarnya, karena melalui permainan serta alat-alat permainan anak-anak belajar mengerti dan memahami suatu gejala tertentu. Kegiatan ini sendiri merupakan suatu proses dinamis di mana seorang anak memperoleh informasi dan pengetahuan yang kelak dijadikan landasar dasar pengetahuannya dalam proses belajar berikutnya di kemudian hari.

Usia Sekolah
Dalam usia sekolah tuntutan yang dihadapi oleh anak semakin banyak. Tekanan sekolah, lingkungan sebaya (peer group), serta tuntutan belajar yang semakin tinggi membuat anak harus lebih mampu menghadapi tuntutan sosial masyarakat. Bahkan tidak jarang orang tua pun menuntut anak demikian besar untuk berprestasi tinggi, dan adakalanya harapan orang tua melebihi kapasitas anak untuk dapat mencapainya.

Berbagai kondisi sosial yang penuh tuntutan baik dari sekolah, teman sebaya maupun orang tua dapat menimbulkan berbagai permasalahan bagi anak antara lain dalam proses belajar. Anak sulit berkonsentrasi. Perstasi anak menurun dengan sangat tajam. Motivasi anak untuk belajar sangat minim. Berbagai keluhan tersebut merupakan sebagian kecil keluhan rutin yang kerap disampaikan oleh para orang tua pada konselor. Tidak jarang bahakan orang tua justru menekankan keluhan bahwa anak-anak mereka terlalu senang bermain, sehingga kurang belajar. Padahal justru melalui bermain, mereka bisa belajar lebih banyak lagi.

Fungsi Terapeutik Bermain
Bermain dan alat-alat permainan memiliki fungsi terapeutik. Proses belajar anak justru sebaiknya dilakukan melalui metode bermain dan dengan alat-alat permainan. Namun hal ini hendaknya tidak disalah artikan dengan istilah "main-main". Proses belajar dapat merupakan proses yang sangat membosankan untuk dikerjakan oleh anak-anak, sedangkan anak-anak biasanya lebih tertarik dengan permainan. Karena, proses bermain dan alat-alat permainan merupakan perangkat komunikasi bagi anak-anak. Melalui bermain anak-anak belajar berkomunikasi dengan lingkungan hidupnya, lingkungan sosialnya serta dengan dirinya sendiri. Melalui bermain anak-anak belajar mengerti dan memahami lingkungan alam dan sekitarnya. Melalui bermain anak-anak belajar mengerti dan memahami interaksi sosial dengan orang-orang di sekelilingnya. Melalui bermain anak-anak mengembangkan fantasi, daya imajinasi dan kreativitasnya.

Bermain merupakan proses dinamis yang sesungguhnya tidak menghambat anak dalam proses belajar, sebaliknya justru menunjang proses belajar anak. Keberatan orang tua terhadap aktivitas bermain anak justru menghambat kemampuan kreativitas anak untuk mengenal dirinya sendiri sendiri serta lingkungan hidupnya. Hanya saja, proses bermain anak perlu diarahkan sesuai dengan kebutuhannya. Anak-anak yang cenderung menyendiri sebaiknya tidak dibiarakan untuk terlalu sibuk dengan "solitary play". Sebaliknya mereka sebaiknya diarahkan untuk lebih aktif dalam permainan kelompok (social game). Mereka yang kurang mampu untuk berkonsentrasi dapat diberikan berbagai jenis permainan yang lebih terarah pada pemusatan perhatian seperti mengkonstruksi suatu benda tertentu. Anak-anak yang kurang mampu untuk mengekspressikan diri secara verbal dapat dibina untuk mengembangkan bakat kreatifnya melalui media misalnya menggambar. Namun pendidik juga selayaknya membimbing anak dalam mengekspressikan imajinasi serta fantasinya ke dalam bentuk gambaran yang konkrit dan tidak membiarkan anak-anak berfantasi tanpa arah yang jelas; karena hal ini dapat mengakibatkan konfabulasi dalam proses berpikir anak.

Kemampuan mengingat anak adakalanya terbatas karena perhatian anak yang kurang terhadap hal-hal tertentu. Kondisi seperti ini dapat diperbaiki dengan menggunakan pola assosiatif misalnya dengan menggunakan warna-warna tertentu pada hal-hal tertentu sehingga anak dapat dengan mudah mengingat hal tersebut jika ia mengenal warnanya. Bentuk-bentuk tertentu dari yang mulai sederhana sampai yang lebih kompleks juga dapat diberikan pada anak untuk mengingat hal-hal tertentu. Misalnya mengingat bentuk huruf R dengan menyertai gambar Rumah.

Demikian banyak hal yang dapat dikembangkan melalui proses bermain bagi kesejahteraan pertumbuhan dan perkembangan anak. Orang tua hendaknya tidak bersikap anti-pati terhadap proses bermain, karena dalam proses bermain anak terkandung proses belajar, dan dalam proses belajar anak terkandung unsur terapeutik bagi anak agar lebih tangguh dalam menghadapi lingkungan hidup mereka di kalangan masyarakat luas, kelompok sebayanya maupun lingkungan hidupnya secara umum.


Kepustakaan:
Diaz, A. (1992). Freeing the creative spirit. San Fransisco: Harper

Gabarino, J., Stott, F.M., & Faculty of The Erikson Institute (1989). What children can

tell us. San Fransisco: Jossey-Bass

Schwartz, S., & Hellen Miller, J.E. (1988). The language of toys. Maryland: Woodbine House.

[Baca Selangkapnya »»]

Tentang SPMB

Buat temen-temen yang bingung cari alamat buat daftar SPMB tahun 2008, ne aku postingkan alamat-alamat dan pilihan-pilihan jurusan yang pengen diambil. So….smoga berhasil…ok
 PERSYARATAN
a. Seleksi :
- Lulusan SMTA (SMA, MA, SMK, SMTA luar negeri, ujian persamaan) dari tiga angkatan kelulusan terakhir (2007, 2006, 2005).
- Sehat fisik, sesuai pilihan program studi
b. Penerimaan :
Lulus SPMB dan Lulus Ujian Nasional serta Sehat Fisik, sesuai pilihan program studi.
 TEMPAT PENDAFTARAN


A. Regional I :
1. Banda Aceh
•Universitas Syiah Kuala (UNSYIAH)
•Universitas Malikussaleh (UNIMAL)
2. UNIMED Medan
•Universitas Negeri Medan (UNIMED)
3. USU Medan
•Universitas Sumatera Utara (USU)
4. Padang
•Universitas Negeri Padang (UNP)
•Universitas Andalas (UNAND)
5. Pekanbaru
•Universitas Riau (UNRI)
6. Jambi
•Universitas Jambi (UNJA)
7. Bengkulu
•Universitas Bengkulu (UNIB)
8. Palembang
•Universitas Sriwijaya (UNSRI)
9. Tanjungkarang
•Universitas Lampung (UNILA)
10. Jakarta
•Universitas Negeri Jakarta (UNJ)
•Universitas Indonesia (UI)
•Universitas Islam Negeri Jakarta (UIN Jakarta)
11. Bogor
•Institute Pertanian Bogor (IPB)
12. Bandung
•Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)
•Institute Teknologi Bandung (ITB)
•Universitas Padjajaran (UNPAD)
•Universitas Negeri Islam Bandung (UIN Bandung)
13. Pontianak
•Universitas Tanjungpura (UNTAN)
14. Banten
•Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA)
15. Khusus luar negeri
•KBRI Kuala Lumpur (Malaysia)
B. Regional II :
16. Purwokerto
•Universitas Jendral Soedirman (UNSOED)
17. Semarang
•Universitas Negeri Semarang (UNNES)
•Universitas Diponegoro (UNDIP)
18. Surakarta
•Universitas Sebelas Maret (UNS)
19. Yogyakarta
•Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)
•Universitas Gadjah Mada (UGM)
•Universitas Islam Negeri Yogyakarta (UIN Yogyakarta)
20. Palangkaraya
•Universitas Palangkaraya (UNPAR)
21. Banjarmasin
•Universitas Lambung Mangkurat (UNLAM)
22. Samarinda
•Universitas Mulawarman (UNMUL)
C. Regional III
23. Surabaya
•Universitas Negeri Surabaya (UNESA)
•Institute Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
•Universitas Airlangga (UNAIR)
•Universitas Trunojoyo (UNIJOYO)
24. Malang
•Universitas Negeri Malang (UM)
•Universitas Brawijaya (UNIBRAW)
25. Jember
•Universitas Jember (UNEJ)
26. Denpasar
•Universitas Udayana (UNUD)
27. Mataram
•Universitas Mataram (UNRAM)
28. Kupang
•Universitas Nusa Cendana (UNDANA)
29. Makassar
•Universitas Negeri Makassar (UNM)
30. Makassar
•Universitas Hasanuddin (UNHAS)
31. Palu
•Universitas Tadulako (UNTAD)
32. Kendari
•Universitas Haluoleo (UNHALU)
33. Tondano
•Universitas Negeri Manado (UNIMA)
34. Manado
•Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT)
35. Ambon
•Universitas Pattimura (UNPATTI)
36. Jayapura
•Universitas Cendrawasih (UNCEN)
•Universitas Negeri Papua (UNIPA)
37. Gorontalo
•Universitas Negeri Gorontalo (UNG)
38. Singaraja
•Universitas Pendidikan Ganesha (UNDIKSHA)
39. Ternate
•Universitas Khairun (UNKHAIR)

 PROGRAM STUDI PILIHAN
1. Peserta dibagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok IPA dan IPS.
2. Setiap peserta ujian kelompok IPA / IPS dapat memilih sebanyaknya dua program studi sesuai dengan kelompok ujain yang diikuti.
3. Urutan pilihan program studi menunjukkan urutan prioritas.
4. Peserta ujian yang hanya memilih satu program studi boleh memilih program studi dari PTN di regional mana saja (lintas regional).
5. Peserta ujian yang memilih dua program studi atau lebih, salah satu program studi tersebut harus merupakan program studi dari PTN yang berada dalam satu regional dengan tempat peserta mengikuti ujian. Pilihan yang lain dapat merupakan program studi dari PTN di luar regionalnya.
6. Daftar program studi yang lengkap dan benar terdapat dalam Buku Petunjuk Pendaftaran, sedangkan daftar program studi yang tercantum dalam pengumuman ini hanya program studi yang ditawarkan oleh UGM dalam SPMB 2007.

 LINTAS REGIONAL
Peserta ujian dapat memilih program studi di setiap PTN anggota (lintas regional), dengan ketentuan sekurang-kurangnya satu pilihan berada di regional tempat peserta mengikuti ujian. Tempat ujian tidak merupakan kriteria penerimaan, sehingga peserta ujian tidak perlu mengikuti ujian di tempat program studi atau universitas yang menjadi pilihannya. Pilihlah tempat ujian yang terdekat atau terhemat.
 MATA UJIAN
a. Kemampuan Kuantitatif dan Bahasa (Matematika Dasar, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris).
b. Kemampuan IPA (Matematika IPA, Fisika, Kimia, Biologi, dan IPA terpadu).
c. Kemampuan IPS (Sejarah, Geografi, Ekonomi, dan IPS terpadu).
d. Uji Ketrampilan untuk beberapa program studi.
•Setiap peserta dapat memilih untuk mengikuti ujian kelompok IPA, kelompok IPS, kelompok IPC/Campuran (IPA+IPS).

 BIAYA UJIAN SPMB
a. Rp.150.000,00 per peserta untuk kelompok IPA atau kelompok IPS
b. Rp.175.000,00 per peserta untuk kelompok Camporan/IPC (IPA+IPS).
c. Biaya yang sudah disetor ke bank BNI tidak dapat diminta kembali.
 CARA PENGAMBILAN FORMULIR PENDAFTARAN
a. Membayar biaya mengikuti ujian di Bank BNI di kota peserta akan menempuh ujian.
b. Pembayaran dimulai tanggal 19 - 29 Juni 2007, (dapat diwakilkan).
c. Menukarkan bukti pembayaran asli dari Bank dengan Formulir Pendaftaran SPMB dan Buku Petunjuk Pendaftaran SPMB di Panitia Lokal setempat (dapat diwakilkan).
d. Penukaran dapat dilakukan tanggal 19 - 29 Juni 2007.
e. Pelayanan formulir di Yogyakarta untuk IPA dan IPC bertempat di kantor registrasi UGM, Gg. Kinanthi, Barek (utara MM UGM), Jl. Kaliurang, tlp (0274) 902255, 902256. Pelayanan formulir IPS dan kolektif (IPA/IPS/IPC) bertempat di kampus UNY, Karangmalang, tlp (0274) 520325.
 CARA PENGEMBALIAN FORMULIR
Pengembalian Formulir Pendaftaran dilaksanakan di Panitia Lokal terdekat pada tanggal 19 - 29 Juni 2007.
b. Pengembalian Formulir Pendaftaran harus dilakukan sendiri, ( tidak boleh diwakilkan ).
c. Pada saat mengembalikan formulir, peserta harus membawa:
- Formulir Pendaftaran SPMB yang sudah diisi lengkap dan benar dan dua lembar pasfoto berwarna ukuran 4x6 cm, yang sudah ditempelkan pada Bukti Hadir dan Tanda Peserta SPMB (kecuali tanda tangan dan cap jempol).
- Copy Ijasah/STTB/STK/STL atau daftar nilai terakhir dan menunjukkan aslinya.
- Copy Identitas Diri (KTP/pasport/kartu pelajar) dan menunjukkan aslinya.

 UJIAN TULIS SPMB
Hari Pertama : Latihan ujian
Rabu , 4 Juli 2007 Kemampuan Kuantitatif dan kemampuan Bahasa
Hari Kedua
Kamis , 5 Juli 2007 :
Ujian Pertama : Kemampuan IPA
Istirahat
Ujian Kedua : Kemampuan IPS
 X. UJI KETRAMPILAN
Peserta ujian yang memilih program studi tertentu diwajibkan mengikuti Uji ketrampilan yang jadwalnya diatur oleh Program Studi masing-masing PTN ( 9-14 Juli 2007).
 XI. BEASISWA MASUK UNIVERSITAS (BMU)
Perhimpunan SPMB menyediakan BMU (Beasiswa Mengikuti Ujian) dengan jumlah terbatas untuk lulusan SMTA Negeri maupun Swasta dari keluarga kurang mampu yang memenuhi persyaratan. Beasiswa tersebut berupa (a) Biaya pembelian formulir pendaftaran IPA atau IPS, (b) Uang saku sebesar Rp. 100.000,-.
Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh BMU dapat ditanyakan di masing-masing Kepala Sekolah.
 XII. PENGUMUMAN HASIL SELEKSI
- Website (Media Elektronik): 2 Agustus 2007, pukul 20.00 wib
- Koran Pengumuman (Media cetak): 3 Agustus 2007, pukul 7.00 wib
 XIII. SPMA (Sumbangan Peningkatan Mutu Akademik)
Khusus bagi peserta yang memilih program studi di UGM diwajibkan mengisi Surat Pernyataan Kesanggupan SPMA yang disediakan oleh Panitia.
•Bagi peserta yang mendaftar di Panitia Lokal Yogyakarta, Surat Pernyataan Kesanggupan SPMA tersebut dapat diperoleh saat membeli formulir dan diserahkan saat pengembalian formulir.
•Bagi peserta yang mendaftar di Panitia Lokal selain Yogjakarta diwajibkan men- download Surat Pernyataan Kesanggupan SPMA di http://um.ugm.ac.id. Kemudian setelah diisi dikirim ke Direktorat Administrasi Akademik UGM, Kantor Pusat UGM, Lt.1 sayap Selatan, Bulaksumur, Yogyakarta 55281 sebelum tanggal 28 Juni 2007.


[Baca Selangkapnya »»]

Kamis, 08 Mei 2008

gambar persepsi

ini hanyalah secuil dari keindahan yang dimiliki oleh psikologi, masih ada ribuan hal-hal menarik yang menarik yang dapat kita nikmati dari misteri ilmu psikologi.....





so....buat yang punya gambar-gambar kayak gini..,bagi-bagi dung.......ok

[Baca Selangkapnya »»]
Template by - Abdul Munir | Daya Earth Blogger Template